Legenda Bandung: Si legit Nan Lembut “Serabi Mirasa”

Pemerintahan43 views

Kontrolnews.co – Bandung | Bandung memang gak ada habisnya! Punya banyak tempat kuliner sampai jajanan yang khas dan populer.

Gak heran kalau Kota Bandung masuk ke-10 Besar Best Food Cities Versi Taste Atlas Award Tahun 2023/2024 banyak tempat wisata kuliner yang wajib kamu coba.

Salah satu kuliner tradisional Khas Bandung yang terkenal sampai saat ini adalah serabi jajanan jadul yang cocok menemani saat ngopi atau ngeteh syantik di Bandung.

Bagi pecinta serabi manis kalian wajib coba Si Legit nan lembut “Serabi Mirasa” di Jalan Karang Anyar No. 60 Kota Bandung sejak 1980.

Baca Juga  Mantap! Kini Pengaduan Lapor dan PPID Ada di Mal

“Awal jualan sih iseng-iseng. Sedikit-sedikit gak langsung banyak. Merintis juga. Kadang nitip-nitip di warung terus ke pasar,” ujar Iwang Yulianti pembuat Serabi Mirasa.

Namun dari mulut ke mulut akhirnya serabi kinca buatannya mulai dikenal banyak pelanggan.

Uniknya pembuatan serabi kinca di sini sangat sederhana masih menggunakan alat tradisional tungku dan arang. Bahkan resep Serabi Mirasa turun menurun dari nenek sang suami.

Baca Juga  Siti Nurjanah Dukung Dekopinda Kota Bandung Semakin Berkembang

Saat disantap, tekstur lembut dan rasa manis dari guyuran kinca menjadi satu meleleh di dalam mulut.
Ada 2 jenis serabi yang dijual pertama serabi kinca dan serabi oncom. Dalam sehari tempat ini bisa membuat serabi sampai 10 kilogram atau kurang lebih 500 buah serabi.

Salah satu pelanggan tetap Dina dari Kopo sering beli serabi kinca untuk ibunya. “Enak lembut, sering beli di sini. Ini pesanan mamah. Langganan pisan,” ujarnya

Baca Juga  Cegah Suhu Politik Memanas Jelang Pemilu, Presiden: Lakukan Edukasi Politik

Serabi dihargai Rp2.500 per buah, buka setiap hari senin sampai sabtu pukul 11.00 – 16.30 WIB.

So! Buat kamu pecinta jajanan manis wajib banget rasakan Si Legit Serabi Mirasa dengan datang langsung sambil bernostalgia membuat serabi langsung dari tungku. Atau bisa pesan via Whatsapp 081210724096.

Komentar