Sejarah Baru Atlet Wushu Sragen, Berhasil Meraih Mendali Emas Dalam Kejurprov Jateng 2024 

Olahraga391 Dilihat

Kontrolnews.co – Sragen | Suatu kembanggaan seorang pelatihan Wushu, dikala Anak didiknya berhasil dalam kejuaraan dengan Menorehkan prestasi

Anang Sudarsono Anggota TNI aktif kelahiran Sragen 1977, yang saat ini berdinas di Koramil 0805/10 Sine Kodim 0805/ Ngawi. Di sela – sela kesibukanya Tugas Sebagai Anggota Aktif Masih menyempatkan waktunya untuk Melatih atlit Atlit Wushu, dengan ikhlas tanpa meminta bayaran untuk Atlitnya dengan syarat harus Siap dan Mau Berprestasi

Selain pelatih, Anang Sudarsono juga menjabat Sebagai Ketua Umum Wushu Indonesia Kabupaten Sragen.

Saat di temui awake media, Anang Sudarsono menyampaikan bahwa, Kontingen Wushu Sragen sudah biasa mendapat medali, termasuk pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2023 lalu yang berhasil mendapat dua perak dan satu perunggu.

Sebenarnya sudah sering mendapat medali, tapi itu hanya sebatas perak dan perunggu. Alhamdulillah dalam Kejurprov ini, kami berhasil meraih emas sekaligus pertama kalinya dalam sejarah Wushu Sragen. “Tuturnya. Sabtu, 13 Desember 2024.

Lebih lanjut, Anang menjelaskan, Anak didiknya yang sukses membuyong mendali emas tersebut ialah atlet putri kelas 48 kg, Evi Novitasari. Selain emas, ada empat perak yang diraih oleh Tri Suwarno kelas 75 kg putra, Dimas Eka Wibowo kelas 56 kg putra, Saprilia Faktur Rohman kelas 52 kg putri, dan Britania Naila Puriyanto kelas 60 kg putri. Untuk perunggu M. Robitd Al Husain kelas 48kg putra.

“Diluar dugaan Wushu Sragen berhasil meraih mendali emas, mengingat ada kisah pilu di balik medali emas yang dibawa pulang oleh kontingen wushu Sragen tersebut. Atlet peraih mendali emas tersebut, dua hari sebelun pertandingan dimulai menerima kabar sedih, sang ibu meninggal dunia,” Ucapnya.

Foto: Usai ikuti kontingen Atlet Wushu Sragen foto bersama pelatihan sekaligus ketua cabang wushu Kabupaten Sragen

Pada saat itu merupakan hal genting, karena ada aturan bahwa atlet wajib hadir, untuk menimbang berat badan.

Sehingga kami beri dia kebebasan, mau pulang atau tetap lanjut. Karena hal seperti itu tidak terduga, tetapi si atlet sendiri memilih untuk terus mengikuti bertanding.

Kami juga mengupayakan, memohon kepada panitia agar diberi keringanan untuk dia, tidak mengikuti tes tersebut atau diberi kesempatan pulang sebentar menjenguk di rumah, ” Jelasnya.

Novita atlit Wushu peraih medali emas itu diantar jemput oleh kontingen, untuk pulang sebentar melihat pemakaman sang ibu, setelah itu kembali ke GOR Wuji Ungaran yang merupakan tempat Kejurprov Jateng2024 digelar, untuk melanjutkan mengikuti pertandingan.

Ditanya tentang persiapan atletnya, Anang menjelaskan, selalu memberika support para atlet untuk berlatih sejak tujuh bulan sebelum pertandingan. Dengan latihan intensif enam bulan sebelum pertandingan.

Selama ini kami berlatih, dengan mengunakan tempat di Persatuan Tinju Amatir (Pertina) Sragen. Kalau mereka sedang latihan kami mengunakan tempat di venue pencak silat. Kalau keduanya latihan ya kami cari tempat lain yang memungkinkan untuk latihan,” kata Anang.

Anang berharap, wushu di Sragen mendapat perhatian dari pihak terkait. Bisa memberika fasilitas untuk tempat latihan khusus wushu di Kabupaten Sragen ini.

Target dari Wushu Sragen setelah ini, dalam waktu dekat sedang menyiapkan atlet untuk mengikuti Porprov 2026, dengan harapan peraihan medali emas di Kejurprov Jateng 2024 bisa dipertahankan serta bisa meningkat.

Foto: Evi Novitasarai atlit wushu Sragen peraih mendali emas, dengan tangis bahagia memeluk pelatihnya Bapak Anang Sudarsono

 

Evi Novitasarai atlet wushu peraih mendali emas, saat di konfirmasi mengatakan sangat puas, sekaligus gembira bisa meraih mendali emas, Dan bisa membanggakan wushu Kabupaten Sragen.

Evi meneritakan kisahnya, setelah sampai di penginapan sebelum bertanding, menerima kabar duka karena sang ibu tercinta meninggal Dunia.

“Saat itu juga, saya langsung balik lagi ke Sragen. Untuk melihat Ibu yang terakhir kalinya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Evi menjelaskan, setelah melihat pemakaman ibunya, saya langsung berangkat kembali ke lokasi pertandingan. Hal itu dilakukannya karena memang orang tuanya sangat mendukungnya untuk menjadi atlet wushu dan ia tidak mau mengecewakan mereka.

“Karena sebelum berangkat ke Semarang, saya mendapat restu orang tua, makanya saya memutuskan untuk mengikuti event ini dan alhamdulillah saya dapat meraih mendali emas,” pungkasnya.