Beasiswa Kapolri Antar Mahasiswa USU Muhammad Ja’far Hasibuan Tampil di Bedah Buku Internasional di UI

Nasional175 Dilihat

Kontrolnews.co – Jakarta | Kisah perjuangan Muhammad Ja’far Hasibuan, mahasiswa Program Studi Magister Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU), mendapat perhatian dalam seminar dan talkshow peluncuran serta bedah buku bertaraf internasional yang digelar di Aula G FKM Universitas Indonesia (UI), Jakarta.

Kegiatan yang mengangkat buku berjudul “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” tersebut menjadi forum yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, pembuat kebijakan, dan peserta dari berbagai latar belakang untuk membahas perjalanan hidup, pengalaman empiris, serta gagasan inovasi yang dituangkan Ja’far dalam buku tersebut.

Kegiatan yang berlangsung beberapa hari sebelum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu diikuti sekitar 500 peserta secara luring dan 1.500 peserta secara daring, menurut keterangan Ja’far kepada awak media, Sabtu (15/8/2026).

Ja’far menyebut kegiatan tersebut diselenggarakan Mega Press Nusantara bersama Perpurnas dan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), dengan dukungan sejumlah institusi, termasuk Perpustakaan Nasional RI, Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, serta FKM UI.

“Pada launching dan bedah buku saya, kegiatan tersebut diresmikan atas nama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo melalui perwakilan pimpinan Polri,” ujar Ja’far.

Menurut Ja’far, peluncuran buku tersebut menjadi momentum penting dalam menunjukkan bahwa keterbatasan sosial dan ekonomi tidak selalu menjadi penghalang bagi seseorang untuk menempuh pendidikan, melakukan penelitian, dan menghasilkan karya.

“Peluncuran ini menjadi bukti bahwa keterbatasan sosial dan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk menghasilkan karya ilmiah yang memenuhi standar akademik dan berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan,” katanya.

Dalam bukunya, Ja’far mengangkat perjalanan hidupnya sebagai anak yatim yang berasal dari wilayah pedesaan di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara.

Ia mengisahkan perjuangannya merantau dengan bekal Rp70.000 dan berusaha membiayai pendidikan dengan berjualan roti sembari menjalani pendidikan tinggi.

Pengalaman menghadapi keterbatasan akses informasi, sumber daya, serta kondisi sosial-ekonomi kemudian menjadi bagian dari perjalanan Ja’far dalam melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan gagasan inovasi yang disebut Biofar SS.

Ja’far mengatakan berbagai pengalaman tersebut dituangkan dalam buku melalui pendekatan yang menggabungkan pengalaman empiris dengan teori dan referensi ilmiah.

Ia juga menyampaikan bahwa formulasi Biofar SS masih menjadi bagian dari pengembangan yang dilakukannya dan tidak seluruhnya dipublikasikan.

Terkait aktivitas sosial di bidang kesehatan, Ja’far menyebut dirinya selama bertahun-tahun berupaya memberikan edukasi dan membantu masyarakat sesuai kompetensi yang dimilikinya. Klaim mengenai efektivitas suatu produk atau metode pengobatan, menurutnya, tetap harus ditempatkan dalam kerangka pembuktian dan standar ilmiah yang berlaku.

Ja’far juga menilai kepercayaan yang diperolehnya melalui Program Beasiswa Kapolri menjadi motivasi sekaligus amanah untuk terus mengembangkan kemampuan akademik dan penelitian.

“Seluruh kompetensi dan wawasan yang saya peroleh selama pendidikan saya arahkan menjadi karya terapan dan inovasi yang teruji secara ilmiah agar dapat diakses oleh masyarakat, khususnya kelompok yang memiliki keterbatasan pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Ia menambahkan dukungan pimpinan institusi dan para dosen menjadi bagian penting dalam menjaga proses pendidikan dan penelitian agar tetap berjalan berdasarkan metodologi serta etika akademik.

Buku “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” memiliki ketebalan lebih dari 400 halaman dan didukung lebih dari 200 referensi ilmiah lintas disiplin.

Menurut Ja’far, buku tersebut tidak hanya mengangkat kisah motivasi, tetapi juga mencoba menghubungkan pengalaman hidup dengan berbagai teori akademik yang relevan.

“Kerangka teorinya mencakup teori tingkat tinggi atau grand theories seperti Teori Modal Sosial dan Kapabilitas Manusia, Teori Aksi Terencana, hingga Teori Keadilan Kesehatan dan Determinan Sosial Kesehatan,” jelasnya.

Pada tingkat teori menengah atau mid-range theories, buku tersebut membahas Psikologi Perkembangan, Teori Sistem Ekologi, Post-Traumatic Growth, Resiliensi, Growth Mindset, hingga Consolidated Framework for Implementation Research (CFIR).

Sementara dalam aspek manajemen, buku tersebut menggunakan sejumlah pendekatan seperti Prinsip Pareto 80/20, Matriks Eisenhower, RACI, dan Work Breakdown Structure (WBS).

Melalui pendekatan tersebut, perjalanan hidup penulis dianalisis sebagai gambaran mengenai bagaimana pengalaman menghadapi keterbatasan dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter, pengembangan kapasitas, serta lahirnya gagasan inovasi.

Acara tersebut dibuka dengan sambutan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang diwakili Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, Komjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si.

Sambutan Kapolri dibacakan oleh Irjen Pol Dr. Andry Wibowo, S.I.K., M.H., M.Si.

Dalam sambutan tersebut disampaikan pesan bahwa potensi anak bangsa tidak semata-mata ditentukan oleh latar belakang ekonomi, tetapi juga oleh kejujuran, disiplin, ketekunan, dan kepedulian sosial.

Sementara itu, Guru Besar FKM UI, Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc., memberikan penilaian positif terhadap karya tersebut. Ia menilai buku Ja’far memiliki nilai akademik karena menghubungkan pengalaman hidup penulis dengan sejumlah teori yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat, inovasi, dan kepemimpinan.

Dalam forum tersebut juga muncul dorongan agar Ja’far mempertimbangkan pengembangan pendidikan akademiknya ke jenjang doktoral.

Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Rosleny Marliani, M.Si., CPP, turut melihat kisah Ja’far dari perspektif psikologi perkembangan, resiliensi, dan aktualisasi diri.

Menurutnya, pengalaman kehilangan orang tua, menghadapi keterbatasan ekonomi, serta menjalani berbagai pekerjaan untuk menunjang pendidikan dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan ketangguhan seseorang.

Sementara Guru Besar FKM USU, Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes., menyebut karya tersebut sebagai kebanggaan keluarga dan almamater karena menunjukkan semangat pendidikan, kerja keras, serta kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Apresiasi juga disebut datang dari Kementerian Pemuda dan Olahraga RI melalui perwakilannya, Dr. Ir. Hendro Wicaksono, M.Sc.Eng.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Ja’far disebut mendapat penetapan sebagai Ikon Pemuda Terdaftar Resmi Kemenpora RI.

Selain itu, Perpustakaan Nasional RI disebut menetapkan buku tersebut sebagai salah satu koleksi referensi nasional.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi ilmiah, penyerahan buku, serta penandatanganan dokumen referensi.

Di tengah perhatian publik menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kisah Ja’far yang berangkat dari keterbatasan ekonomi hingga menempuh pendidikan magister dan menghasilkan karya menjadi bagian penting dari pesan yang ingin disampaikan melalui buku tersebut.

Ja’far berharap pengalaman hidup dan gagasan yang dituangkannya dapat memberikan motivasi kepada generasi muda untuk tidak mudah menyerah terhadap keterbatasan.

“Saya sangat bersyukur atas kepercayaan yang diberikan melalui Beasiswa Kapolri. Kepercayaan tersebut menjadi amanah bagi saya untuk terus belajar, berkarya, dan mengembangkan ilmu agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Komentar