“Pembangunan memang harus berjalan, tetapi tidak boleh mengabaikan kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, kami berkomitmen melakukan mitigasi bencana melalui penanaman pohon di daerah rawan longsor,” ungkapnya.

Sukanto menekankan pentingnya pemilihan lahan yang bijak untuk pembangunan, agar tidak merusak keseimbangan ekosistem dan memicu bencana.
“Kami akan bekerja sama dengan unsur kewilayahan untuk menentukan lokasi penanaman yang tepat,” tambahnya.

Sementara itu, H. Irwan Koesdradjat menegaskan bahwa Yayasan Badega Garuda Sakti telah berdiri secara sah baik secara de jure maupun de facto.
Ia menyebut, kegiatan penanaman pohon akan dilakukan secara bertahap di seluruh wilayah Jawa Barat, termasuk di pesisir utara untuk program rehabilitasi mangrove.

“Kami akan roadshow ke berbagai daerah. Target kami menanam pohon keras yang mampu menahan abrasi dan bencana alam, sesuai dengan program strategis pemerintah provinsi Jawa Barat, seperti yang disampaikan Gubernur: Lembur Diurus, Kota Ditata,” jelas Irwan.
Ketua YBGS, Murfito Adi, dalam pernyataannya menegaskan bahwa kegiatan penanaman akan dilakukan secara terencana, berdasarkan koordinasi dengan Forkopimda dan analisis wilayah rawan bencana.

“Kami tidak akan asal tanam. Perlu kajian matang agar program ini tepat sasaran dan memberi dampak nyata,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peninjauan kembali terhadap tata ruang dan perizinan pembangunan yang berpotensi memicu bencana.

“Kami berharap ke depan semua pihak bisa lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan,” tandas Murfito.
Melalui deklarasi ini, Yayasan Badega Garuda Sakti menunjukkan keseriusannya dalam berkontribusi terhadap pelestarian alam dan pembangunan berkelanjutan. Komitmen ini menjadi bagian dari langkah strategis menuju Jawa Barat yang lebih istimewa, hijau, dan tangguh menghadapi bencana.




