ORBIT SIGESIT Puskesmas Sine Ngawi Turunkan Risiko Stunting Lewat Pendampingan Terpadu Ibu Hamil dan Balita

Kesehatan62 Dilihat

Kontrolnews.co – Ngawi | Puskesmas Sine, Kabupaten Ngawi, terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui inovasi ORBIT SIGESIT (Orang Tua Asuh Bumil dan Balita Risti Sinergi Gerak Cegah Stunting Terpadu). Program ini merupakan pengembangan dari inovasi ORBIT yang telah berjalan sekitar delapan tahun dan kini menghadirkan sistem pendampingan yang lebih komprehensif bagi ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan balita berisiko stunting.

Program tersebut dilaksanakan di seluruh wilayah kerja Puskesmas Sine sebagai bentuk kolaborasi lintas profesi yang melibatkan dokter, bidan, nutrisionis, kader kesehatan, pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta berbagai organisasi dan perangkat daerah. Sabtu, 1 Agustus 2026.

Stunting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia karena berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Kondisi ini disebabkan kekurangan gizi kronis yang terjadi terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Selain itu, ibu hamil yang mengalami KEK juga berisiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah yang berpotensi mengalami gangguan pertumbuhan.

Melalui ORBIT SIGESIT, Puskesmas Sine menghadirkan model pendampingan terpadu yang tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga membangun peran aktif keluarga dan masyarakat dalam pencegahan stunting sejak dini.

Program ini diawali dengan identifikasi sasaran oleh bidan dan kader kesehatan berdasarkan hasil Posyandu serta kunjungan rumah. Selanjutnya dokter, bidan, dan nutrisionis melakukan asesmen kesehatan dan status gizi sebelum menyusun rencana intervensi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga.

Pendampingan dilakukan secara intensif melalui kunjungan rumah rutin, pemantauan kehamilan, konseling gizi, pemberian edukasi, hingga penanganan medis apabila diperlukan. Setiap bulan seluruh tim melakukan evaluasi untuk memastikan perkembangan ibu hamil maupun balita sesuai target yang telah ditetapkan.

ORBIT SIGESIT memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya berbasis kolaborasi lintas profesi, bersifat proaktif dengan mendatangi langsung keluarga sasaran, menggunakan sistem pemantauan terpadu, berkelanjutan hingga kondisi sasaran membaik, serta menempatkan keluarga sebagai pusat perubahan perilaku hidup sehat.

Indikator keberhasilan program meliputi peningkatan Lingkar Lengan Atas (LILA) ibu hamil minimal 23,5 sentimeter, kenaikan berat badan sesuai usia kehamilan, kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), kelengkapan kunjungan Antenatal Care (ANC), peningkatan berat dan tinggi badan balita sesuai usia, kehadiran Posyandu minimal 80 persen, konsumsi protein hewani secara rutin, serta kelengkapan imunisasi.

Pendanaan ORBIT SIGESIT dirancang secara berkelanjutan melalui berbagai sumber, antara lain Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), Dana Desa, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) melalui Dinas Kesehatan, dukungan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial (CSR), swadaya masyarakat, hingga kerja sama lintas sektor bersama PKK, BKKBN, Dinas Ketahanan Pangan, perangkat desa, sekolah, perguruan tinggi, dan organisasi kemasyarakatan.

Sejak mulai dikembangkan pada tahun 2025, inovasi ORBIT SIGESIT dilaporkan menunjukkan tren penurunan jumlah balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Sine. Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat mampu memperkuat upaya pencegahan stunting secara berkelanjutan.

Kepala Puskesmas Sine, Dr. Dina, menyampaikan bahwa ORBIT SIGESIT merupakan inovasi yang sejalan dengan program nasional percepatan penurunan stunting karena menempatkan pencegahan sejak masa kehamilan sebagai prioritas utama.

“Melalui ORBIT SIGESIT, kami ingin memastikan setiap ibu hamil dan balita berisiko mendapatkan pendampingan secara menyeluruh. Keberhasilan menurunkan stunting tidak bisa hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan, tetapi memerlukan sinergi pemerintah desa, kader, keluarga, dan seluruh elemen masyarakat. Dengan kolaborasi yang kuat, kami optimistis dapat mewujudkan generasi Ngawi yang sehat, cerdas, dan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Program ORBIT SIGESIT juga sejalan dengan kebijakan nasional percepatan penurunan stunting sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, serta mendukung pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang menekankan pentingnya upaya promotif dan preventif dalam pembangunan kesehatan masyarakat.

Dengan mengusung motto “Bergerak Bersama, Dampingi Keluarga, Cegah Stunting Sejak Dini,” ORBIT SIGESIT diharapkan menjadi model inovasi pelayanan kesehatan berbasis kolaborasi yang dapat mempercepat penurunan stunting sekaligus meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.

Komentar