Kontrolnews.co – Ngawi | Kabut tipis masih menggantung di atas perbukitan Sine ketika suara mesin diesel terdengar memecah kesunyian subuh. Truk R6 dengan kepala hijau-kuning itu perlahan menuruni jalur Wonosari–Sine, salah satu jalan yang sudah lama dikenal warga sebagai tanjakan dan turunan tajam yang menuntut kewaspadaan ekstra bagi setiap pengemudi.
Di balik kemudi, Moh. Saleh Ferdinan (47) berusaha menjaga ritme laju kendaraan. Di sampingnya, sang kernet Dion Veryansyah (22) tampak sibuk memastikan muatan 1.234 ekor ayam potong tetap aman di balik bak merah truk tersebut. Keduanya bertolak dari Wonosari sebelum subuh, berharap tiba di tujuan sebelum matahari naik terlalu tinggi.

Tak ada yang menyangka, perjalanan itu akan berubah menjadi peristiwa yang membuat keduanya tak pernah melupakannya.
Sekitar pukul 05.30 WIB, truk memasuki turunan Dusun Bejen, Desa Pandansari, sebuah titik yang oleh warga disebut sebagai kawasan paling rawan di jalur tersebut. Di sinilah semuanya berubah.
“Awalnya truk terlihat stabil,” kata Widodo (31), salah satu saksi yang saat itu sedang melintas membawa ayam pesanan pelanggan. “Tapi beberapa detik kemudian saya lihat truk mulai oleng. Sepertinya remnya bermasalah.” Jumat, 14 November 2025.
Dion, sang kernet, disebut berteriak memperingatkan sopir ketika kendaraan mulai kehilangan kendali. Dengan muatan berat dan jalur yang menurun tajam, situasi menjadi semakin sulit dikendalikan.
Dalam hitungan detik, truk itu melesat, menghantam pagar tanah di sisi jalan, lalu terguling dan terjun ke jurang sedalam sekitar 10 meter.
Suara benturan keras terdengar hingga ratusan meter. Warga desa yang masih bersiap memulai aktivitas langsung berhamburan menuju sumber suara.
Ketika warga pertama tiba, kondisi di dalam jurang menggetarkan hati. Bak truk ringsek, sebagian ayam berserakan, dan Dion terlihat berusaha menahan sakit sambil memegangi tangan kirinya yang patah.
“Yang penting korban selamat dulu, itu pikiran pertama kami,” ujar Agus (40), saksi lain yang ikut membantu sejak menit awal.
Tidak perlu waktu lama, laporan masuk ke Polsek Sine. PLH Kapolsek Sine bersama tujuh anggotanya segera meluncur ke lokasi.
“Kami langsung fokus pada evakuasi korban, memastikan sopir dan kernet bisa diselamatkan lebih dulu,” ujar PLH Kapolsek.
Dion berhasil dievakuasi dengan tandu darurat oleh warga dan polisi, lalu dilarikan ke RS di Solo untuk mendapat perawatan intensif akibat patah tulang tangan kiri.

Evakuasi truk menjadi tantangan tersendiri. Jurang yang curam dan licin membuat pergerakan petugas terbatas. Dibantu relawan Garasi Sine dan puluhan warga, proses penarikan dilakukan secara bertahap.
Tali baja dipasang, kendaraan berat dikerahkan, dan koordinasi ketat dilakukan untuk menghindari longsoran tambahan. Hingga beberapa jam kemudian, sebagian badan truk baru berhasil digeser dari posisi miringnya.
Suasana di lokasi dipadati relawan, warga, serta aparat yang hilir mudik memastikan keselamatan selama proses evakuasi berlangsung.
Di balik kericuhan penanganan, ada kisah yang lebih senyap: luka seorang kernet muda yang sedang berjuang memulai hidup. Dion disebut baru beberapa bulan ikut menjadi kernet untuk membantu keluarga. Tak pernah ia bayangkan perjalanan pagi itu berakhir dengan patah tulang dan rasa trauma yang harus ia hadapi.
Sopir Moh. Saleh sendiri terlihat terpukul, meski selamat tanpa luka serius. Ia hanya berulang kali menyebut satu hal:
“Remnya, remnya blong… saya sudah coba tahan. Tuhan masih lindungi kami.”
Pernyataan itu kini menjadi fokus kepolisian untuk menyelidiki kondisi kendaraan, termasuk sistem pengereman yang diduga bermasalah.
Kecelakaan ini menambah daftar insiden di jalur Sine–Wonosari yang dikenal ekstrem saat musim dingin atau saat subuh ketika jalan masih licin. Warga berharap pemerintah memperkuat rambu peringatan dan melakukan pengecekan berkala terhadap kondisi jalan.
“Setiap tahun ada saja kejadian. Mudah-mudahan ini jadi perhatian,” ujar Widodo.
Subuh itu, di sebuah turunan lengang di Sine, sebuah truk bermuatan ribuan ekor ayam memberi pelajaran tentang betapa tipisnya jarak antara rutinitas dan bahaya. Tentang bagaimana sebuah kendaraan yang setiap hari melintas bisa berubah menjadi ancaman ketika satu komponen saja gagal berfungsi.
Tetapi di balik tragedi itu, ada juga kisah solidaritas: warga yang turun tanpa komando, relawan yang sigap, dan aparat yang bekerja cepat memastikan semuanya terkendali.
Sementara itu, Dion kini menjalani perawatan. Jalan hidupnya mungkin berbelok sedikit, namun harapan tetap ada, seperti matahari yang akhirnya naik perlahan, mengeringkan embun pagi di Kecamatan Sine.




