Selain Puncak, Transportasi Bogor Barat Bakal Ditunjang Kereta Tenjo-Jasinga

Berita42 Dilihat

Kontrolnews.co Bogor– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor terus menyiapkan pengembangan sarana transportasi untuk memperkuat konektivitas antarwilayah. Selain kereta gantung di kawasan Puncak, Bogor Barat disiapkan memiliki jalur kereta api Jasinga-Tenjo atau Parung Panjang.

 

Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika mengatakan pengembangan berbagai moda transportasi tersebut merupakan bagian dari arahan Bupati Bogor Rudy Susmanto untuk membangun sistem transportasi yang terintegrasi dan menjangkau berbagai wilayah.

 

Menurut Ajat, pembangunan transportasi tidak hanya diarahkan untuk mengurai kepadatan lalu lintas, tetapi juga membuka akses dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah yang selama ini membutuhkan penguatan konektivitas.

 

“Pengembangan transportasi ini merupakan bagian dari upaya membangun konektivitas antarwilayah. Jadi bukan hanya di Puncak, tetapi juga bagaimana wilayah Bogor Barat memiliki dukungan transportasi massal melalui rencana kereta Tenjo-Jasinga,” kata Ajat.

 

Berdasarkan dokumen rencana pengembangan infrastruktur transportasi berbasis rel Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor, terdapat dua alternatif trase yang disiapkan untuk melayani kawasan Bogor Barat, yakni Tenjo-Jasinga dan Parung Panjang-Jasinga.

Baca Juga  Pemkab Bogor Sulap Eks Gedung Kesenian Jadi Creative Hub

 

Trase Tenjo-Jasinga dirancang sepanjang 18,6 kilometer dengan tiga titik stasiun dan melintasi Kecamatan Tenjo serta Jasinga. Titik yang direncanakan berada di Tenjo, Kampung Singabraja, Pangaur, hingga Jasinga.

 

Sementara alternatif Parung Panjang-Jasinga memiliki trase sekitar 26,5 kilometer dengan enam titik stasiun. Jalur tersebut dirancang melintasi wilayah Parung Panjang, Rumpin, Cigudeg, Jasinga, dan Tenjo.

 

Pengembangan jalur kereta Bogor Barat diarahkan untuk melayani pergerakan komuter sekaligus mendukung aglomerasi wilayah. Jalur tersebut dirancang sebagai pengumpan atau feeder penumpang menuju Stasiun Tenjo maupun Parung Panjang sehingga masyarakat Bogor Barat dapat terhubung dengan jaringan KRL Commuter Line Jabodetabek.

 

Kawasan yang menjadi sasaran pengembangan memiliki karakter tata guna lahan beragam, mulai dari permukiman, pertanian, perkebunan, kawasan industri hingga lahan terbuka hijau. Wilayah Jasinga, Tenjo dan Parung Panjang juga tercatat memiliki pertumbuhan penduduk sekitar 0,91 persen.

 

Ajat mengatakan keberadaan kereta tersebut diharapkan menjadi salah satu pilihan transportasi masyarakat Bogor Barat sekaligus memperkuat konektivitas kawasan dengan jaringan transportasi yang lebih luas.

 

“Prinsipnya, kita ingin transportasi menjadi bagian dari pengembangan wilayah. Ketika konektivitasnya semakin baik, mobilitas masyarakat meningkat, pusat-pusat ekonomi baru tumbuh dan manfaat pembangunan bisa dirasakan lebih merata,” ujarnya.

Baca Juga  Pemkab Bogor dan TNI AD Perkuat Kesiapsiagaan Wilayah melalui Integrasi Manajemen Logistik

 

Hasil kajian awal Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapperida) Kabupaten Bogor pada 2025 bahkan lebih merekomendasikan trase Parung Panjang-Jasinga untuk dibangun setelah mempertimbangkan 15 kriteria dari aspek teknis, ekonomi, sosial dan lingkungan.

 

Dalam kajian tersebut, trase Parung Panjang-Jasinga dirancang menggunakan konstruksi at grade atau di permukaan dengan jenis rel heavy rail. Panjang trase dalam kajian teknis sekitar 27,26 kilometer dengan enam stasiun baru dan satu stasiun eksisting di Parung Panjang.

 

Waktu tempuh kereta diproyeksikan sekitar 24 menit. Jalur tersebut juga direncanakan memiliki enam perlintasan sebidang dan 17 jembatan, dengan biaya operasional kereta diperkirakan Rp20.000-Rp30.000 per penumpang.

 

Pengembangan jalur itu juga sejalan dengan rencana pengembangan kawasan Parung Panjang sebagai pusat pelayanan kawasan dan transit oriented development (TOD). Sementara Tenjo diarahkan untuk pengembangan stasiun barang dan penguatan konektivitas jaringan antarkota dan perkotaan.

Baca Juga  Pemkab Bogor Gelar Maulid Akbar, Momentum Perkuat Ukhuwah dan Persatuan

 

Menurut Ajat, pengembangan transportasi tersebut harus disiapkan secara terintegrasi dengan moda lainnya, termasuk angkutan umum dan rencana pengembangan transportasi berbasis listrik.

 

Karena itu, setiap rencana pembangunan sarana transportasi masih membutuhkan kajian komprehensif, mulai dari trase, kapasitas, keselamatan, tata ruang, kebutuhan lahan, dampak lingkungan, integrasi antarmoda hingga kelayakan investasi.

 

Dokumen Dishub Kabupaten Bogor membagi pelaksanaan rencana menjadi empat tahap. Tahap awal berupa pra-studi kelayakan, penentuan trase indikatif dan konsultasi publik, kemudian dilanjutkan studi kelayakan komprehensif, analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL), serta desain awal.

 

Tahap berikutnya mencakup penyusunan detail engineering design (DED), pembebasan lahan dan pencarian skema pendanaan, sebelum memasuki konstruksi fisik, pengadaan sarana kereta, uji coba terbatas hingga operasional penuh.

 

“Semua harus dikaji secara komprehensif. Arahan Bupati adalah bagaimana kita menyiapkan transportasi yangyg tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga menjadi fondasi pengembangan Kabupaten Bogor ke depan,” kata Ajat.(admin)

Komentar