KONTROLNEWS – Ada satu hal yang sering tidak kita sadari dalam hubungan antarmanusia: kita baru merasa kehilangan suara seseorang ketika ia tidak lagi berbicara kepada kita.
Seorang anak yang dahulu bercerita tentang teman-temannya, perlahan memilih menyimpan ceritanya sendiri. Seorang murid yang dahulu rajin bertanya, mulai duduk diam di sudut kelas. Seorang pegawai yang biasanya menyampaikan gagasan, kini hanya mengerjakan apa yang diperintahkan. Masyarakat yang dahulu lantang menyampaikan keluhan, perlahan berhenti berharap.
Kita mungkin menganggap semuanya baik-baik saja. Anak itu semakin dewasa. Murid itu semakin tenang. Pegawai itu semakin patuh. Masyarakat itu tidak lagi ribut
Namun, pernahkah kita bertanya: apakah mereka benar-benar berubah, atau kita yang tidak lagi menyediakan ruang bagi mereka untuk berbicara?,
Karena diam tidak selalu berarti setuju. Terkadang, diam adalah tanda bahwa seseorang tidak lagi percaya dirinya akan didengarkan.
Kita sering kali terlalu sibuk mengajarkan orang lain cara berbicara, tetapi lupa memeriksa bagaimana kita mendengarkan.
Orang tua ingin anaknya terbuka, tetapi setiap cerita dibalas dengan ceramah. Guru menginginkan murid yang kritis, tetapi pertanyaan yang berbeda dianggap sebagai pembangkangan. Pemimpin mengharapkan bawahan yang kreatif, tetapi gagasan yang tidak sejalan dengan pikirannya segera dipatahkan.
Lama-kelamaan, orang belajar membaca situasi. Mereka memahami kapan boleh berbicara, apa yang aman untuk disampaikan, dan pendapat mana yang sebaiknya disimpan sendiri.
Pada titik tertentu, mereka tidak lagi membutuhkan larangan untuk diam. Pengalaman telah mengajarkan mereka bahwa berbicara tidak selalu membawa kebaikan.
Inilah yang perlu kita khawatirkan.!
Seseorang mungkin masih berada di dekat kita, tetapi tidak lagi membawa pikirannya ke dalam percakapan. Ia masih mendengarkan, tetapi berhenti membagikan apa yang sesungguhnya dirasakan. Hubungan tampak berjalan seperti biasa, padahal ruang kepercayaan di dalamnya perlahan menyempit.
Dalam keluarga, kita bisa kehilangan kesempatan memahami dunia batin anak sendiri. Di sekolah, kita mungkin tidak pernah mengetahui kesulitan yang dialami murid. Dalam organisasi, pemimpin bisa kehilangan informasi penting karena bawahannya memilih aman dengan tidak menyampaikan masalah. Dalam kehidupan publik, pemerintah bisa salah membaca keadaan ketika berkurangnya keluhan dianggap sebagai bukti bahwa persoalan telah terselesaika
Padahal, ketika orang berhenti mengeluh, belum tentu masalahnya hilang. Bisa jadi, harapan mereka untuk didengarkanlah yang telah hilang.
Tentu, tidak setiap diam berarti kekecewaan. Ada orang yang memang membutuhkan waktu untuk berpikir, memilih menyendiri, atau tidak nyaman mengungkapkan perasaannya. Karena itu, kita tidak boleh terburu-buru menafsirkan keheningan orang lain.
Namun, ketika seseorang yang dahulu terbuka mulai menarik diri, kita patut bertanya dengan tulus: adakah sesuatu dalam cara kita memperlakukannya yang membuat ia tidak lagi nyaman berbicara?.
Pertanyaan itu membutuhkan kerendahan hati. Kita harus bersedia menerima kemungkinan bahwa persoalannya bukan semata-mata karena orang lain sulit diajak bicara, melainkan karena kita terlalu sibuk memberikan jawaban, mempertahankan pendapat, atau menunjukkan siapa yang lebih berkuasa.
Mendengarkan bukan berarti selalu menyetujui. Orang tua tetap perlu mendidik, guru tetap perlu menegakkan aturan, pemimpin tetap perlu mengambil keputusan, dan pemerintah tetap perlu menentukan kebijakan. Namun, semua itu tidak seharusnya menutup kesempatan orang lain untuk menyampaikan pikiran dan pengalamannya.
Sebab, orang tidak selalu membutuhkan kita untuk membenarkan pendapatnya. Terkadang, mereka hanya membutuhkan kepastian bahwa ketika berbicara, mereka tidak akan langsung dihakimi, direndahkan, atau dipatahkan.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya mengapa orang lain tidak mau berbicara. Mulailah bertanya apakah mereka masih merasa aman ketika berbicara kepada kita
Ujian terbesar dalam mendengarkan bukan ketika seseorang masih bersemangat menyampaikan pendapatnya, melainkan ketika ia mulai memilih diam di hadapan kita.
Jangan menunggu anak menjauh untuk mulai mendengarkan.
Jangan menunggu pegawai kehilangan inisiatif untuk membuka ruang dialog.
Jangan menunggu masyarakat kehilangan kepercayaan untuk menyadari pentingnya mendengar aspirasi.
Sebab, ketika seseorang berhenti berbicara, yang hilang bukan hanya kata-katanya. Bisa jadi, kita sedang kehilangan kesempatan untuk memahami, memperbaiki, dan membangun kembali kepercayaan.
Dan ketika kepercayaan itu benar-benar hilang, mengundang seseorang untuk kembali berbicara mungkin jauh lebih sulit daripada sekadar memintanya membuka mulut.
Berbicara membuat kita didengar. Mendengarkan membuat orang lain merasa berarti.
Oleh: Suchan Daragana S.sos, MI.Kom. Akademisi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie





Komentar