Kontrolnews.co – Sleman Yogyakarta| Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Ngawi menggelar kegiatan Media Gathering Tahun 2026 dengan mengusung tema “Sinergi Tanpa Batas untuk Kabupaten Ngawi Tumbuh, Berdaya, Berbudaya.” Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 28–29 Oktober 2026, menjadi momentum mempererat kebersamaan sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan insan pers di Kabupaten Ngawi.
Selama ini, harapan untuk membangun kebersamaan dan menyatukan insan media di Kabupaten Ngawi terus digaungkan. Melalui kegiatan tersebut, semangat persatuan dan kolaborasi antara media mulai diwujudkan dalam suasana penuh keakraban, komunikasi, dan kebersamaan.
Kegiatan Media Gathering tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang membangun komunikasi, bertukar gagasan, serta memperkuat peran media sebagai mitra strategis pemerintah dalam menyampaikan informasi pembangunan kepada masyarakat.
Puncak kegiatan pada Kamis (29/10/2026) ditutup dengan kegiatan wisata edukasi Lava Tour Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam perjalanan tersebut, rombongan mengunjungi sejumlah lokasi yang menyimpan jejak sejarah dahsyatnya erupsi Gunung Merapi, di antaranya Museum Mini Sisa Hartaku dan Batu Alien.
Lava Tour Merapi merupakan kegiatan wisata petualangan menggunakan kendaraan jeep untuk menyusuri kawasan terdampak erupsi Gunung Merapi, khususnya di wilayah lereng selatan. Selain menawarkan pengalaman menyusuri medan bekas aliran material vulkanik, wisata ini juga memberikan edukasi mengenai sejarah letusan, kondisi alam, serta pentingnya mitigasi bencana.
Melalui perjalanan tersebut, pengunjung dapat melihat secara langsung bagaimana dahsyatnya kekuatan alam mengubah kehidupan masyarakat di sekitar Gunung Merapi.

Salah satu destinasi yang dikunjungi adalah Batu Alien yang berada di Dusun Jambu, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman.
Batu Alien merupakan bongkahan batu besar yang terlontar dari kawasan Gunung Merapi saat terjadi erupsi. Batu berukuran sekitar dua meter dengan lebar kurang lebih 1,5 meter tersebut menjadi salah satu saksi bisu dahsyatnya letusan Merapi.
Keunikan batu ini terletak pada bentuk permukaannya yang menyerupai wajah makhluk asing atau alien. Ada pula yang melihat bentuknya seperti wajah manusia maupun kepala singa atau macan. Keunikan itulah yang kemudian membuat masyarakat mengenalnya dengan sebutan Batu Alien.
Kini, kawasan tersebut menjadi salah satu tujuan wisata Lava Tour Merapi yang tidak hanya menawarkan keindahan alam dan petualangan, tetapi juga memberikan wawasan sejarah kebencanaan kepada para wisatawan.
Selain Batu Alien, rombongan Media Gathering Diskominfo Ngawi juga mengunjungi Museum Mini Sisa Hartaku. Museum ini menyimpan berbagai benda peninggalan yang menjadi saksi bisu dahsyatnya erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010.
Museum tersebut didirikan oleh Sriyanto, warga setempat yang selamat dari bencana erupsi Merapi. Bangunan yang digunakan merupakan rumah tempat Sriyanto dan keluarganya pernah tinggal sebelum bencana terjadi.
Pendirian museum ini bertujuan untuk mengenang peristiwa erupsi Merapi 2010 sekaligus menghormati para korban yang kehilangan nyawa maupun harta benda akibat bencana tersebut.
Di bagian luar museum, pengunjung dapat melihat berbagai benda yang tersisa akibat terjangan awan panas, termasuk rangka sepeda motor dan kerangka hewan ternak.
Sementara di bagian dalam, terdapat berbagai ruangan yang masih menggambarkan kondisi rumah pada umumnya, seperti ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, ruang makan, dan dapur.
Berbagai barang peninggalan yang berhasil diselamatkan dari bencana tersebut dipajang sebagai koleksi museum. Di antaranya buku, telepon genggam, radio, televisi yang meleleh akibat panas, peralatan dapur, gelas pecah, wajan, kendi, hingga sejumlah peralatan rumah tangga lainnya.
Tidak hanya itu, terdapat pula rangka tempat tidur serta berbagai alat musik tradisional seperti gamelan, kendang, dan gong yang menjadi bukti bahwa kehidupan masyarakat setempat pernah terhenti akibat dahsyatnya bencana.
Sejumlah foto dokumentasi yang terpajang di dinding museum juga memperlihatkan kondisi kawasan permukiman ketika erupsi Gunung Merapi terjadi pada 2010.
Bencana tersebut mengakibatkan kerusakan besar, menelan korban jiwa, menghancurkan permukiman, serta menyebabkan banyak hewan ternak mati. Hujan abu vulkanik, pasir, kerikil, dan material panas menjadi bagian dari peristiwa yang meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat di lereng Merapi.
Di balik koleksi benda-benda yang tersisa, Museum Mini Sisa Hartaku menyimpan pesan kemanusiaan yang mendalam. Peristiwa erupsi Merapi 2010 menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia tidak pernah lepas dari risiko bencana dan kehilangan.
Menurut salah satu pemandu wisata, pelajaran penting yang dapat dipetik dari museum tersebut adalah bahwa harta benda hanyalah titipan. Sebanyak apa pun kekayaan yang dimiliki manusia, semuanya dapat hilang dalam sekejap ketika bencana datang.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi setiap pengunjung agar lebih menghargai kehidupan, keluarga, kepedulian terhadap sesama, serta senantiasa meningkatkan kesadaran terhadap potensi bencana alam.
Kunjungan ke sejumlah destinasi Lava Tour Merapi menjadi penutup kegiatan Media Gathering Diskominfo Kabupaten Ngawi Tahun 2026 yang sarat pengalaman dan pembelajaran.
Lebih dari sekadar perjalanan wisata, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat ikatan kebersamaan di antara insan pers Kabupaten Ngawi.
Semangat “Sinergi Tanpa Batas” diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan berakhir, melainkan terus terbangun dalam pelaksanaan tugas jurnalistik, penyebarluasan informasi publik, serta pengawasan terhadap jalannya pembangunan daerah.
Dengan komunikasi yang baik dan kolaborasi yang semakin kuat, insan pers diharapkan mampu menjadi mitra kritis, konstruktif, dan profesional dalam mendukung terwujudnya Kabupaten Ngawi yang tumbuh, berdaya, dan berbudaya.
Media bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga bagian penting dalam membangun kesadaran publik, menjaga transparansi, dan mengawal pembangunan daerah.




Komentar