Keadilan di Negara Konoha Tajam ke Bawah, Tumpul ke Atas

Opini782 Dilihat

Kontrolnews.co – Konoha, negeri yang katanya menjunjung tinggi keadilan, kini menjadi panggung teater paling menyakitkan bagi rakyat kecil. Di sini, hukum bukan lagi pelindung, tapi cambuk yang hanya diarahkan ke mereka yang tak mampu melawan. Sementara itu, para elite menikmati status kebal hukum, bersandar nyaman di kursi kekuasaan sembari menertawakan nasib rakyat dari balik jendela mobil mewah mereka.

Bayangkan, seorang ibu mencuri pisang demi anaknya kelaparan, dihukum dengan cara dipermalukan, diarak keliling kampung layaknya penjahat kelas kakap. Namun, saat pejabat menggarong uang rakyat triliunan rupiah, tak ada iring-iringan hukuman, tak ada malu, tak ada rasa bersalah. Yang ada hanya senyum lebar di layar televisi dan sambutan hangat di ruang tahanan VIP.

Kini, pemerintah Konoha akan mengesahkan Undang-undang perampasan aset milik rakyat. Mobil dan motor yang menunggak pajak akan disita. Rakyat kecil yang sudah terseok-seok menahan hidup, malah diancam kehilangan satu-satunya alat untuk mencari nafkah. Apakah ini bentuk “keadilan”? Atau hanya cara baru negara untuk mengeruk uang dari rakyat yang sudah kehabisan napas?

Apakah para perancang undang-undang itu pernah naik motor tua untuk mengantar anak ke sekolah? Pernah merasakan antre di SPBU dengan uang pas-pasan? Tentu tidak. Mereka duduk di kursi empuk, menikmati gaji dan tunjangan dari pajak yang diperas dari keringat rakyat kecil.

Hukum di Negara Konoha bukan hanya runcing ke bawah dan tumpul ke atas. Ia sudah berubah menjadi alat kekuasaan, palu besi yang hanya menghantam lemah, dan sarung tangan beludru untuk para konglomerat dan pejabat.

Sudah saatnya rakyat bangkit, membuka mata, dan bertanya: Keadilan macam apa yang kita jalani? Hukum siapa yang kita taati? Dan sampai kapan kita membiarkan ini terus terjadi?