Tujuh Siswa SMK PPS 2 Ngrambe Diduga Alami Gejala Keracunan Usai Konsumsi MBG, Penyebab Masih Menunggu Hasil Laboratorium

Berita Jatim102 Dilihat

Kontrolnews.co – Ngawi  | Sebanyak tujuh siswa SMK PPS 2 Ngrambe, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, dilaporkan mengalami keluhan kesehatan berupa mual, muntah dan pusing setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (10/8/2026).

Namun, hingga berita ini diterbitkan, belum dapat dipastikan bahwa keluhan kesehatan tersebut disebabkan oleh makanan MBG. Kepastian mengenai penyebabnya masih menunggu hasil pemeriksaan medis serta pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan.

Informasi tersebut diperoleh awak media setelah melakukan konfirmasi kepada pihak SMK PPS 2 Ngrambe dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Pusaka Sakti Jaya Semesta yang berlokasi di Jalan Raya Ngrambe-Walikukun, Dusun Sanggrahan RT 01/RW 05, Desa Ngrambe, Kecamatan Ngrambe.

Candra Darusman, guru kesiswaan SMK PPS 2 Ngrambe, bersama Narwan, staf tata usaha, membenarkan adanya tujuh siswa yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.

Menurut keterangan pihak sekolah, keluhan yang dialami para siswa antara lain mual, muntah dan pusing.

“Setelah adanya gejala tersebut, kami melaporkan kejadian kepada pihak SPPG bahwa ada tujuh siswa diduga mengalami keracunan usai menyantap MBG,” jelas pihak sekolah saat ditemui awak media, Selasa (11/8/2026).

Baca Juga  Karnaval Kecamatan Sine 2026 Semarakkan HUT ke-81 RI, Camat Agus Dwi Narimo Tekankan Semangat Gotong Royong

 

Menu MBG yang dikonsumsi para siswa pada saat itu, menurut keterangan pihak sekolah, terdiri atas ayam goreng mentega, tumis jamur, tahu goreng dan buah jeruk.

Dari tujuh siswa tersebut, tiga siswa tidak dibawa ke fasilitas kesehatan dan mendapatkan penanganan di Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Sementara empat siswa dibawa ke Klinik Aisyiyah Tulakan, Kecamatan Sine.

Pihak sekolah menyampaikan bahwa ketujuh siswa tersebut tidak menjalani rawat inap. Berdasarkan keterangan sekolah, kondisi mereka telah membaik dan para siswa kembali mengikuti kegiatan pembelajaran.

Pihak sekolah juga menyampaikan harapan agar pemberian MBG sementara dapat dievaluasi sampai hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan diketahui.

Menurut pihak sekolah, langkah tersebut dinilai penting untuk mengetahui penyebab munculnya keluhan kesehatan serta menjadi bahan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG.

Pihak sekolah juga mempertanyakan pertimbangan membawa empat siswa ke fasilitas kesehatan di wilayah Sine. Menurut pihak sekolah, terdapat fasilitas kesehatan di Kecamatan Ngrambe yang lokasinya dinilai lebih dekat dari sekolah.

Meski demikian, pertanyaan tersebut merupakan pandangan dan pertimbangan dari pihak sekolah. Hal itu tidak dapat dimaknai sebagai tuduhan bahwa pihak SPPG telah melakukan pelanggaran atau kelalaian dalam menentukan fasilitas kesehatan.

Baca Juga  PSHT Cabang Nganjuk Gelar Bakti Sosial dan Pentaskan Reog Gembong Asmoro Semarakkan HUT ke-81 RI

Sementara itu, Anisa dari bagian keuangan SPPG Yayasan Pusaka Sakti Jaya Semesta membenarkan bahwa pihaknya menerima laporan mengenai sejumlah siswa yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.

Menurut Anisa, setelah menerima laporan, pihak SPPG mengambil langkah dengan membawa empat siswa untuk mendapatkan pemeriksaan.

“Dari pihak SPPG langsung mengambil tindakan dan membawa empat siswa ke Klinik Swasta Aisyiyah Tulakan, Kecamatan Sine, karena penanganannya lebih cepat,” kata Anisa.

Anisa menjelaskan, sebelumnya siswa hendak dibawa ke dokter terdekat. Namun, dokter tersebut disebut sedang tidak praktik sehingga selanjutnya para siswa dibawa ke Klinik Aisyiyah dan mendapatkan penanganan dari dokter yang bertugas.

Ketika ditanya mengenai pertimbangan memilih fasilitas kesehatan di wilayah Sine, Anisa menyebut faktor kecepatan pelayanan menjadi salah satu pertimbangannya.

“Kalau penanganan di puskesmas kan lama prosesnya, Pak, karena untuk umum. Kalau di swasta lebih cepat penanganannya,” ujarnya.

Terkait langkah penanganan lebih lanjut, Anisa menyampaikan bahwa kepala SPPG sedang berada di Surabaya untuk melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sisa makanan yang dikonsumsi para siswa.

Menurut keterangan Anisa, makanan MBG tersebut dikonsumsi para siswa saat jam istirahat sekitar pukul 11.00 WIB. Ia juga menyebut terdapat keterangan dari siswa mengenai aroma ayam yang dianggap berbeda, meski makanan tersebut tetap dikonsumsi.

Baca Juga  Karnaval Kecamatan Sine 2026 Semarakkan HUT ke-81 RI, Camat Agus Dwi Narimo Tekankan Semangat Gotong Royong

Informasi tersebut masih merupakan keterangan dari pihak SPPG dan belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai penyebab keluhan kesehatan para siswa.

Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan diharapkan dapat memberikan informasi objektif mengenai kondisi makanan serta membantu pihak terkait melakukan evaluasi apabila ditemukan adanya persoalan dalam makanan yang dikonsumsi.

Hingga berita ini diterbitkan, awak media belum menerima hasil pemeriksaan laboratorium yang dapat memastikan bahwa makanan program MBG merupakan penyebab keluhan kesehatan yang dialami tujuh siswa tersebut.

Kepastian mengenai penyebab keluhan kesehatan para siswa tetap menunggu hasil pemeriksaan medis dan laboratorium serta informasi resmi dari pihak berwenang.

Dengan demikian, seluruh pihak diharapkan menunggu hasil pemeriksaan secara objektif dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan, sebelum adanya bukti medis maupun laboratorium yang dapat dipertanggungjawabkan.

Komentar