Kontrolnews.co Jombang – Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang berlangsung sejak 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, bertema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa”, resmi ditutup hari ini setelah menyelesaikan seluruh rangkaian sidang, penetapan pengurus, dan dokumen arah kebijakan organisasi untuk periode lima tahun ke depan.
Muktamar yang menjadi forum tertinggi pengambilan keputusan di tubuh organisasi Islam terbesar di Indonesia ini dihadiri oleh ratusan utusan dari seluruh Indonesia serta perwakilan organisasi kemasyarakatan, tokoh negara, dan tamu dari luar negeri. Dalam proses penetapan pimpinan, KH. Miftachul Akhyar ditetapkan kembali sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 melalui musyawarah mufakat oleh sembilan anggota AHWA pada Minggu malam, 30 Agustus 2026.
Sembilan anggota AHWA tersebut adalah: KH. Nurul Huda Djazuli, TGK. KH. Nuruzzahri Yahya, KH. Baharuddin HS, KH. Miftachul Akhyar, KH. Afifuddin Muhajir, KH. Anwar Iskandar, KH. Anwar Manshur, KH. Said Aqil Siroj, dan KH. Abun Bunyamin. Sementara itu, penetapan nama Ketua Umum PBNU masih dalam proses dan dijadwalkan akan diumumkan secara resmi menyusul.
Muktamar juga mengesahkan sejumlah dokumen strategis, meliputi Pandangan Dasar terkait isu keagamaan, kebangsaan, dan kemasyarakatan; Program Kerja Utama yang berfokus pada penguatan pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi umat, kesehatan, serta peran NU di kancah internasional; dan Pemantapan Reformasi Organisasi untuk memperkuat struktur dari pusat hingga ranting, serta meningkatkan akuntabilitas dan transparansi.
Para utusan menyepakati sikap bersama terkait berbagai isu strategis nasional maupun global, antara lain menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta memperkuat toleransi antarumat beragama, mendorong kebijakan pembangunan yang adil dan merata, mengawal pelaksanaan demokrasi yang berintegritas, mengantisipasi dampak perkembangan teknologi digital terhadap moral dan tatanan sosial, serta memperkuat peran Indonesia dalam perdamaian dunia.
Dalam sambutan penutup, ditegaskan bahwa NU akan terus konsisten menjadi organisasi yang tidak hanya mengurus urusan keagamaan, tetapi juga hadir menyelesaikan persoalan umat dengan semangat memperkuat iman, memperteguh persaudaraan, dan melayani masyarakat. Muktamar mengajak seluruh warga NU, masyarakat luas, dan pemerintah untuk bekerja sama membangun negeri dengan semangat gotong royong, di mana NU berkomitmen tetap menjadi mitra yang konstruktif sekaligus pengawas yang kritis demi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan (red)





Komentar